Bisakah Kita Meramal Masa Depan?

Beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah perjalanan wisata religi di kota Beijing, saya bertemu dengan teman bisnis yang belum terlalu lama saya kenal. Saya dijamu makan malam di restoran yang cukup terkenal disana, dengan menu istimewanya adalah Bebek Peking.

Selesai makan, sempat ngobrol sambil minum teh, dan tanpa sengaja perbincangan yg tadinya berkisar masalah bisnis, beralih ke masalah religius.

Seperti kebanyakan penduduk disana, rata-rata mengaku sebagai atheis, meskipun dibanyak sisi kehidupan masih kental dengan tradisi leluhur yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan religius.

Teman saya mengatakan, “Saya hanya percaya bahwa hidup saya ada ditangan saya sendiri, nasib saya tergantung saya sendiri.”
Saya langsung mengangguk sambil mengatakan, “Suatu pandangan hidup yang sangat positif dan optimis.”

Saya secara bergurau mengatakan apakah dia benar-benar tidak percaya bahwa nasib dan takdir manusia ada garisnya yang sudah ada yang menentukan?
Dia dengan penuh keyakinan menjawab bahwa semua tentang nasib dan takdir adalah omong kosong.

“Bagaimana kalau kita bertaruh dengan segelas arak? Saya bisa tahu masa lalu kehidupan yang pernah Anda jalani.”, saya menggodanya dan langsung disetujui tantangan saya itu.
Saya memintanya menyodorkan telapak tangannya, dan saya mengamati garis-garis tangannya.

“Garis tangan Anda, kalau saya lihat, saya sendiri merasa aneh. Kenapa Anda masih bisa hidup sampai sekarang? Ini kemungkinan karena perbuatan amal orang tua Anda.”, saya berkata spontan sambil menepuk telapak tangannya.

Ah! Dia terhenyak kebelakang.
Ternyata ketika dia berumur 12 tahun, pernah sakit parah dan masuk rumah sakit, dan para dokter sudah mengatakan dia sudah meninggal dunia dan didorong ke kamar mayat. Kedua orangtuanya sangat bersedih ketika itu. Tapi, sekitar 15 menit setelah tiba di kamar mayat, ternyata nadinya kembali berdenyut, dan dia hidup kembali!

Begitulah ceritanya…
Akhirnya, dia mengatakan, “Kalau kamu bisa tahu masa lalu saya, apakah kamu bisa melihat masa depan saya?

Sambil menyodorkan segelas anggur merah, lalu kami melanjutkan ngobrol kami.
Pandangannya tentang nasib dan takdir langsung berubah.

Benarkah perubahan yang dilakukan bisa merubah keadaan itu?
Apakah ini suatu kebetulan?
Tidak ada kebetulan yang begitu tepat.



Leave a Reply